Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kumunikasi adalah salah
satu cara kita agar dapat beradaptasi dengan diri sendiri, orang lain, maupun
lingkungan sekitar. Kita berkomunikasi menggunakan bahasa, selain sebagai alat
komunikasi, bahasa juga digunakan sebagai alat ekspresi diri, integrasi dan
adaptasi sosial, dan sebagai alat kontrol sosial. Ada yang mengatakan bahwa
cara berkomunikasi yang dimiliki oleh
seseorang adalah bakat dari lahir atau dipengaruhi oleh lingkunganya. Faktanya
terdapat banyak perbedaan bahasa yang digunakan oleh tiap individu saat
berkomunikasi. Bahasa akan terus berkembang sesuai zaman.
Perkembangan bahasa
merupakan suatu hal yang harus diperhatikan, terutama pada anak. Kemampuan
berbahasa merupakan suatu indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan
berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya. sebab
melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor, psikologis, emosi dan lingkungan
disekitar anak (Soetjiningsih, 1995). Setiap anak memiliki karakteristik
perkembangan bahasa sesuai tingkatan umurrya. Perkembangan bahasa anak
dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: kesehatan, intelegensi, status
sosial ekonomi, jenis kelamin, keinginan berkomunikasi, dorongan, ukuran keluarga,
metode pelatihan anak, hubungan dengan teman sebaya dan kepribadian
(Hurlock,1995).
Bahasa anak akan berkembang sejalan
dengan perbendaharaan kata yang mereka miliki. Oleh karena itu, penguasaan
kosakata sangat berpengaruh pada kemampuan seorang anak dalam berbahasa.
Perkembangan bahasa belum sempurna sampai akhir masa bayi, dan akan terus
berkembang sepanjang kehidupan seseorang. Perkembangan bahasa berlangsung
sepanjang mental manusia aktif dan tersedianya lingkungan untuk belajar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada pembahasan ini adalah:
1. Apa itu Perkembangan
Bahasa?
2. Bagaimana
perkembangan Bahasa pada masa Infancy?
3. Bagaimana
perkembangan Bahasa pada masa Early Childhood?
4. Bagaimana
perkembangan Bahasa pada masa Middle Childhood?
5. Apa saja
faktor yang mempengaruhi perkembangan Bahasa seorang anak?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan umum
dari penulisan adalah untuk mengetahui dan menambah wawasan mengenai perkembangan
bahasa yang dimiliki oleh seorang khususnya pada anak, baik itu faktor-faktor
pendukung atau penghambatnya.
Tujuan
khusus dari penulisan adalah untuk menyeesaikan tugas kelompok dari dosen
pembimbing mata kuliah Psikologi Pendidikan.
Bab II
Pembahasan
A. Pengertian Perkembangan Bahasa
Perkembangan adalah suatu
proses untuk menuju kedewasaan pada makhluk hidup yang bersifat kualitatif,
artinya tidak dapat dinyatakan dengan suatu bilangan tapi dapat di amati dengan
mata telanjang. Perkembangan mengandung makna adanya
pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya ( Kasiram, 1983
: 23), menandung arti bahwa perkembangan merupakan peubahan sifat indiviu
menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat sebelumnya.
Menurut KBBI (1991) (dalam
Muhibbin Syah, 2005: 41), perkembangan adalah perihal berkembang. Selanjutnya
kata berkembang berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan
banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran,
pengetahuan, dan sebagainya.
Bahasa menurut KBBI (
2008 : 116 ), yaitu sitem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh
anggota asyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Pengertian Bahasa menurut Depdiknas (2005: 3 ) Bahasa pada
hakikatnya adalah ucapan pikiran dan perasan manusia secara teratur, yang
mempergunakan bunyi sebagai alatnya.
Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang
diutarakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh,
ekspresi wajah pantonim atau seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang
merupakan bentuk yang paling efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting
serta paling banyak dipergunakan.
Perkembangan
bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat
komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun dengan tanda-tanda dan isyarat. Haliday (dalam Rita Kurnia, 2009 :
68) mengemukakan “beberapa fungsi bahasa bagi anak”, fungsi-fungsi tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Fungsi
instrumental; bahasa di gunakan sebagai alat perpanjangan tangan”Tolong ambilkan pensil’’.
2. Fungsi
regulative; bahasa di gunakan untuk mengatur orang lain” Jangan ambil buku ku!”
3. Fungsi
interaksional; bahasa di gunakan untuk bersosialisasi “ Apa kabar?”
4. Fungsi
personal; bahasa di gunakan untuk mengungkapkan perasaan, pendapat, dan
sebagainya. “Saya senamg sekali!”
5. Fungsi heuristic / mencari
informasi; bahasa di gunakan untuk bertanya. “Apa itu?”
6. Fungsi
imajinatif; bahasa digunakan untuk memperoleh kesenangan, misalnya,
bermain-main dengan bunyi, irama.
7. Fungsi
representative; bahasa di gunakan untuk memberikan informasi atau fakta. “Sekarang hujan”.
B. Perkembangan Bahasa pada Masa
Infancy
Perkembangan
pada masa infancy dapat dilihat dari hal-hal kecil yang bayi lakukan seperti
tangisan bayi yang mengekspresikan banyak hal. Perkembangan pada tahapan ini
sangat berpengaruh dalam menentukan perilaku selanjutnya karena pada masa bayi
merupakan masa awal kehidupan manusia.
Perkembangan
bahasa anak terlihat dari perubahan mulai dari tangisan hingga akhirnya anak
mampu membuat kata dan kalimat. Pada umumnya bayi sering menangis pada
minggu-minggu pertama, baik siang maupun malam. Hal ini memperlihatkan suatu
penyesuaian dengan lingkungannya yang baru.
Menurut
Dr. Najib Advani SpA. MMed. Paed., dokter anak di Sub. Bag, Kardiologi Anak
FKUI-RSCM, secara garis besar bayi menangis dibagi dua kelompok. Pertama, bayi
menangis tanpa penyakit, seperti lapar, haus, perasaan tidak enak atau tidak
nyaman (kepanasan, kedinginan, popok basah, suara berisik, dan lainnya), tumbuh
gigi, saat buang air kecil, kesepian, lelah, atau kolik. Kedua, bayi menangis
karena ada sesuatu penyakit seperti infeksi, hernia, sumbatan usus, autisma,
dan sebagainya.
Seiring
dengan pertambahan usia, kita akan melihat perkembangan yang terjadi pada anak.
Khususnya perkembangan fonologi atau kemampuan untuk mengeluarkan bunyi. Sejak
lahir, bayi sudah memiliki kemampuan untuk memberitahu apa yang dia inginkan,
sukai dan tidak sukai. Komunikasi yang dilakukan menggunakan bahasa isyarat. Kerewelan dan
tangisan adalah cara bayi memberi tahu bahwa ia lapar, kesepian atau tidak
nyaman. Gelisah, sering bangun, atau mengisap tangan adalah cara bayi memberi
tahu bahwa ia lapar. Menangis ialah isyarat lapar yang lebih lanjut. Selain itu
ada beberapa arti tangisan bayi lainnya, antara lain:
1. Tangisannya
berirama teratur, berlangsung terus-menerus, makin lama suaranya makin keras.
Ini terjadi karena bayi merasa risih/tidak nyaman dengan popoknya yang basah.
2. Bayi
menangis dengan suara keras/melengking, berhenti sebentar, lalu menangis lagi.
Atau tangisannya berupa rintihan. Ini terjadi karena bayi merasakan sakit.
3. Tangis
yang diikuti kerewelan, ada gangguan sedikit saja ia langsung merengek. Ini menandakan
bahwa bayi lelah. Walaupun tidak banyak melakukan aktivitas, bayi bisa
merasakan lelah.
4. Tangisan
berupa rintihan. Menjelaskan bahwa bayi merasakan kepanasan / kedinginan.
5. Tangisan
yang langsung melengking dari awal. Menunjukkan bahwa bayi terkejut, misalnya
mendengarkan suara yang terlalu keras.
Setelah beberapa bulan,
tangisan pada bayi akan berkurang karena ia sudah mulai mengetahui apa yang ada
disekelilingnya, adanya ketertarikan dan keinginan untuk mendengarkan
bunyi-bunyi.
|
Umur
|
Perkembangan
Bahasa
|
|
0 – 2 bulan
|
-Menangis
dan senyum
-Lebih
suka kepada suara manusia
|
|
2 – 4 bulan
|
-Bermain dengan bunyi vokal seperti “aa-aa-aa-aa”
ataupun “oo -oo-oo-oo”
|
|
6 – 9 bulan
|
-Mencantum bunyi konsonan dengan bunyivokal untuk menghasilkan suku kata
sepert “ma-ma-ma” atau “ba-ba-ba”
-Mula menunjukkan gerak tangan
|
|
9 – 12 bulan
|
-Mencantukan suku kata dan menghasilkan
|
|
12 – 18 bulan
|
-Menyebut perkataan ( mengenal nama benda atau orang)
|
|
18 – 24 bulan
|
-Menyebut gabungan 2 perkataan kalimat mudah melalui bahasa telegrafi
(perkataanyang penting saja).
Seperti “ti-kar” untuk “ma, saya mau roti bakar”
|
C. Perkembangan Bahasa pada Masa Early
Childhood
Menuru
pigetski, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komuikasi sosial,
tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh lagi pigetski
yakin, bahwa anak pada usiaa dini menggunakan bahsa untuk merencanakan,
membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Pigetski mengatakan bahwa bahasa dan
pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat
memfokuskan kedalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi
secara eksternal dan menggunakan bahsa untuk jangka waktu yang lama sebelum
mereka membuat transisi dari kemampuan berbicara eksternal menjadi internal.
Secara
kronologis (menurut urutan waktu), early
childhood adalah masa perkembangan anak dari usia 2 tahun hingga 5 atau 6
tahun. Masa ini merupakan masa emas (golden age) bagi anak. Artinya bila
seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh
kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi
keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya.
Realitas
itu didasarkan pada hasil penelitian Dr.Benyamin S.Bloom, penulis Stability
and Change in Human Characteristics yang mengemukakan bahwa sekitar 50
persen potensi inteligensi anak sudah terbentuk pada usia 4 tahun dan mencapai
80 persen saat berusia 8 tahun dari total kecerdasan yang akan dicapai pada
usia 18 tahun. Berbagai penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa usia 4
tahun pertama merupakan masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan
anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, jika pada usia tersebut anak
tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi tumbuh kembang anak
tidak akan teraktualisasikan secara optimal (Sutaryati, 2006:10). Dan masa emas
yang demikian berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa berikutnya
itu, seumur hidupnya hanyalah datang sekali. Sehingga apabila terlewati, dimana
pada masa itu anak tidak mendapat pendidikan yang tepat, maka anak akan
kehilangan peluang untuk membangun pondasi untuk keberhasilannya di masa depan.
Anak usia
4-5 tahun rata-rata dapat menggunakan 900-1000 kosa kata yang berbeda. Mereka
menggunakan 4-5 kata dalam satu kalimat yang dapat berbentuk kalimat
pernyataan, negative, Tanya, dan perintah. Anak usia 4 tahun sudah mulai
menggunakan kalimat yang beralasan seperti “saya menangis karena sakit”. Pada
usia 5 tahun pembicaraan merka mulai berkembang dimana kosa kata yang digunakan
lebih banyak dan rumit.
Berpartisipasi
dalam komunikasi bahasa seperti dalam penciptaan teks, baik lisan maupun
tulisan. Haliday dan Hasan (dalam Rita Kurnia, 2009:38) mendefinisikan “teks
sebagai wacana, lisan maupun tulisan, seberapapun panjangnya, yang membentuk
satu kesatuan yang utuh”. Hymess (dalam Rita Kurnia, 2009:38) menyebut
“kemampuan berkomunikasi, yang berarti menciptakan wacana, sebagai
communicative competence.” Dengan demikian, kurikulum yang mengklaim sebagai
berbasis kompetensi.
Aspek-aspek
perkembangan bahasa anak usia taman kanak-kanak:
Anak usia
taman kanak-kanak berada dalam fase perkembangan bahasa secara ekspresif. Hal
ini berarti bahwa anak telah dapat mengungkapkan keinginananya, penolakannya,
maupun pendapatnya dengan menggunakan bahasa lisan. Bahasa lisan sudah dapat di
gunakan anak sebagai alat berkomunikasi.
Aspek-aspek
yang berkaitan dengan perkembangan bahasa anak tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kosa kata
Seiring dengan perkembangan anak dan
pengalamannya berinteraksi dengan lingkungannya, kosa kata anak berkembang
dengan pesat.
2. Sintaksis (tata bahasa)
Walaupun anak belum mempelajari tata
bahasa, akan tetapi melalui contoh-contoh berbahasa yang di dengar dan di lihat
anak di lingkungannya, anak telah dapat menggunakan bahasa lisan dengan
susunana kalimat yang baik. Misalnya: “Rita memberi makan kucing” bukan
“kucing Rita makan memberi”.
3. Semantik
Semantik maksudnya penggunaan kata
sesuai dengan tujuannya. Anak di taman kanak-kanak sudah dapat mengekspresikan
keinginan, penolakan dan pendapatnya dengan menggunakan kata-kata dan kalimat
yang tepat. Misalnya: “tidak mau” untuk menyatakan penolakan.
4. Fonem (satuan
bunyi terkecil yang membedakan kata)
Anak di taman kanak-kanak sudah
memilki kemampuan untuk merangkaikan bunyi yang di dengarnya menjadi satu kata
yang mengabdung arti. Misalnya: i.b.u menjadi
ibu
Untuk menumbuh kembangkan kecerdasan-kecerdasan
tersebut, anak pada usia dini (early childhood) memerlukan stimulan-stimulan
sebagai berikut :
1.
Diajak berbicara
2.
Dibacakan buku cerita berulang-ulang
3.
Menyanyi lagu anak-anak
4.
Dirangsang untuk berbicara dan bercerita
D. Perkembangan Bahasa pada Masa Middle Childhood
masa kanak-kanak
Tengah juga merupakan periode dimana anak-anak meningkatkan pada tics
pragma-bahasa, atau etiket sosial bahasa. Misalnya, anak usia sekolah menjadi
lebih baik memelihara dan memberikan kontribusi untuk percakapan dengan
mengajukan pertanyaan dan menambahkan informasi. Antara usia 6 dan 9, anak-anak
menjadi lebih baik dalam naungan, atau mengubah topik selama percakapan.
Ini hasil dari
meningkatnya kesadaran kebutuhan pendengar. Sebagian anak-anak bergerak melalui
masa kanak-kanak tengah mereka menjadi lebih sadar ketika mereka disalahpahami
dan melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk menjelaskan makna mereka dengan
mengubah atau menambahkan kata-kata untuk kalimat mereka (Ninio & Snow,
1996).
Dibandingkan
dengan sekolah dasar prasekolah dan awal, anak-anak dari 6 sampai 12 tahun usia
adalah komunikator yang lebih efektif, menggunakan konstruksi gramatikal yang
lebih kompleks, dan lebih menyadari peran mereka sebagai pendengar dan
komunikator dalam beberapa konteks. Keragaman yang lebih besar antara kemampuan
bahasa dalam hasil anak yang lebih tua sebagian besar dari faktor lingkungan.
Mereka juga
berbicara dengan orang tua mereka lebih sering dan memiliki interaksi berbicara
lebih positif dengan mereka (Hoff & Tian, 2005; Weigel, Martin, &
Bennett, 2005). Perbedaan dalam perkembangan bahasa dipengaruhi oleh
faktor-faktor ini terbukti dengan TK dan tetap stabil sampai remaja (Farkas
& Beron, 2004).
Masa kanak-kanak pertengahan adalah
tahap transisional koregulasi, dimana orang tua dan anak berbagi kekuasaan:
orang tua mengawasi, akan tetapi si anak yang melaksanakan momen demi momen
regulasi diri. Anak-anak lebih bersedia mengikuti keinginan orang tua apabila
mereka menyadari bahwa orang tuanya adil dan memerhatikan kesejahteraan anak
dan mereka(orang tua) mungkin mengetahui lebih baik karena pengalaman. Juga
akan membantu apabila orang tua mencoba untuk mengikuti penilaian matang si
anak dan hanya mengambil posisi tegas pada isu-isu penting.
Cara orang tua dan anak
menyelesaikan konflik mungkin lebih penting ketimbang hasilnya, apabila konflik
keluarga bersifat konstruktif, maka hal tersebut dapat membantu anak melihat
kebutuhan teradap peraturan dan standar perilaku. Mereka juga belajar isu apa
yang layak untuk diperdebatkan dan strategi apa yang dapat menjadi efektif.
Ketika anak mulai memasuki
praremaja, dan keras, kualitas pemecahan masalah dan negosiasi keluarga menjadi
memburuk. Antara usia 9 dan 11 tahun, partisipasi anak menjadi lebih negative,
terutama pada topic diskusi yang dipilih oleh orang tua. Hal tersebut
menjadikan topic yang dibahas bukan merupakan sesuatu yang penting, isu
mendasarnya justru “siapa yang bertangung jawab”.
Pergeseran ke arah koregulasi
memengaruhi cara orang tua menegakkan disiplin. Orang tua anak usia sekolah
lebih cenderung menggunakan teknik induktif yang mengandung penalaran. Sebagai
contoh, ayah Jared, 8 tahun, menunjukkan bagaimana tindakannya memengaruhi
orang lain, “memukul Jermaine menyakitinya dan membuat perasaannya buruk.
“dalam situasi lain, orang tua Jared dapat membandingkan dengan harga dirinya
sendiri (“Apa yang terjadi dengan anak baik yang ada di sana kemarin?”), humor
(“jika kamu keluar satu hari lagi sebelum mandi, maka kami akan mengetahuinya
jika kamu pulang dengan lalat mengerubungimu”), nilai moral (“anak laki-laki
yang kuat dan besar sepertimu tidak seharusnya duduk dan membiarkan orang yang
sudah berusia lanjut berdiri”), atau apresiasi (“Apakah kamu tidak senang jika
ayahmu memerhatikanmu dengan mengatakan kamu untuk mengenakan sepatu bot
sehingga kamu tidak kedinginan?”). terlepas dari semua itu, orang tua Jared
membiarkannya mengetahui konsekuensi dari perbuatannya (“Tidak perduli kamu
ketinggalan bus sekolah hari ini – kamu tidur terlalu larut tadi malam!
Sekarang kamu harus berjalan kaki ke sekolah”).
E. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa:
1. Kesehatan
Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara
ketimbang anak yang tidak sehat, karena motivasinya lebih kuat untuk
menjadianggauta kelompok sosial dan berkomunikasi dengan anggauta kelompok
tersebut. Apabila pada usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit terus
menerus, maka anak tersebut cenderungakan mengalami kelambatan atau kesulitan
dala perkembangan bahasannya.
2. Intelegensi
Anak yang memiki kecerdasan tinggi belajar
berbicara lebih cepat dan memperlihatkan penguasaan bahasa yang lebih unggul
ketimbang anak yang tingkat kecerdasannya rendah.
3. Status Sosial Ekonomi
Keluarga
Beberapa studi tentang hubungan antara
perkembangan bahasa dengan hal ini menunjukkan bahwa anak yang berasal dari
keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan
anak yang berasal dari keluargayang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin
disebabkan oleh perbedaan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga
kurang memperhatikan)perkembangan bahasa anaknya atau kedua-duanya (Hetzer
& Raindrorf dalam E. Hurlock, 1956).
4. Jenis Kelamin
Pada tahun pertama usia anak, tidak ada
perbedaan vokalisasi antara laki-laki dan perempuan. Namun mulai usia dua
tahun, anak perempuan menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari pada anak
pria. Pada setiap jenjang umur, anak laki-laki lebih pendak dan kurang betul
tatabahasanya, kosa kata yang diucapkan lebih sedikit, dan pengucapannya kurang
tepat ketimbang anak perempuan.
5. Hubungan Keluarga
Hubungan ini dimaknai
sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan
keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan
contoh berbahasa dengan anak. Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak
memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat
menakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan
bahasanya.
Hubungan yang sehat itu bisa berupa sikap orang
tua yang keras\kasar, kurang kasih sayang dan kurang perhatian untuk memberikan
latihan dan contohdalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan
bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan. Seperti gagap
dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk
mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar atau tidak sopan.
6. Keinginan
Berkomunikasi
Semakin kuat keinginan untuk berkomunikasi
dengan orang lain, semakin kuat motivasi anak untuk belajar berbicara, dan
semakin bersedia menyisihkan waktu dan usaha yang diperlukan untuk
belajar.
7. Dorongan
Semakin banyak anak didorong untuk berbicara,
dengan mengajaknya bicara dan didorong menanggapainya, akan semakin awal mereka
belajar berbicara dan semakin baik kualitas bicaranya.
8. Ukran Keluarga
Anak tunggal atau anak dari keluarga kecil
biasanya berbicara lebih awaldan lebih baik ketimbang anak dari keluarga besar.
Karena orang tua dapat menyisahkan waktu yang lebih banyak untuk mengajarkan
anaknya berbicara.
9. Urutan Kelahiran
Dalam keluarga yang sama, anak pertama lebih
unggul ketimbang anak yang lahir kemudia. Hal ini karena orang dapat
menyisihkan waktunya lebih banyak untuk mengajar dan mendorong anak yang lahir
pertama dalam belajar berbicara ketimbang untuk anak yang lahir kemudian.
10. Metode Pelatihan Anak
Anak-anak yang dilatih secara otoriter yang
menekankan bahwa ”anak harus dilihat dan didengar” merupakan hambatan belajar.
Sedangkan pelatihan yang memberikan keleluasan dan demokratis akan mendorong
anak untuk belajar.
11. Kelahiran Kembar
Anak yang lahir kembar umumnya terlambat dalam
perkembanga bicaranya terutamakarena mereka lebih banyak bergaul dengan saudara
kembarnya dan hanya memahamilogat khusus yang mereka miliki. Hal ini melamahkan
motivasi mereka untuk belajar berbicara agar orang lain dapat memahami mereka.
12. Hubungan Dengan Teman
Sebaya
Semakin banyak hubungan anak dengan teman
sebayanya, dan semakin besar keinginan mereka untuk diterima sebagai anggauta
kelompok sebayanya akan semakin kuat motivasi mereka untuk belajar
berbicara.
13. Keperibadian
Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik
cenderungkemampuan bernicaranya lebih baik , baik secara kuantitatif maupun
secara kualitatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar