Minggu, 30 November 2014

perkembangan bahasa, makalah psikologi pendidikan



Bab I
Pendahuluan

A.  Latar Belakang
Kumunikasi adalah salah satu cara kita agar dapat beradaptasi dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Kita berkomunikasi menggunakan bahasa, selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga digunakan sebagai alat ekspresi diri, integrasi dan adaptasi sosial, dan sebagai alat kontrol sosial. Ada yang mengatakan bahwa cara  berkomunikasi yang dimiliki oleh seseorang adalah bakat dari lahir atau dipengaruhi oleh lingkunganya. Faktanya terdapat banyak perbedaan bahasa yang digunakan oleh tiap individu saat berkomunikasi. Bahasa akan terus berkembang sesuai zaman.
Perkembangan bahasa merupakan suatu hal yang harus diperhatikan, terutama pada anak. Kemampuan berbahasa merupakan suatu indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya. sebab melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor, psikologis, emosi dan lingkungan disekitar anak (Soetjiningsih, 1995). Setiap anak memiliki karakteristik perkembangan bahasa sesuai tingkatan umurrya. Perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: kesehatan, intelegensi, status sosial ekonomi, jenis kelamin, keinginan berkomunikasi, dorongan, ukuran keluarga, metode pelatihan anak, hubungan dengan teman sebaya dan kepribadian (Hurlock,1995).
Bahasa anak akan berkembang sejalan dengan perbendaharaan kata yang mereka miliki. Oleh karena itu, penguasaan kosakata sangat berpengaruh pada kemampuan seorang anak dalam berbahasa. Perkembangan bahasa belum sempurna sampai akhir masa bayi, dan akan terus berkembang sepanjang kehidupan seseorang. Perkembangan bahasa berlangsung sepanjang mental manusia aktif dan tersedianya lingkungan untuk belajar.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada pembahasan ini adalah:
1.      Apa itu Perkembangan Bahasa?
2.      Bagaimana perkembangan Bahasa pada masa Infancy?
3.      Bagaimana perkembangan Bahasa pada masa Early Childhood?
4.      Bagaimana perkembangan Bahasa pada masa Middle Childhood?
5.      Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan Bahasa seorang anak?

C.  Tujuan Penulisan
Tujuan umum dari penulisan adalah untuk mengetahui dan menambah wawasan mengenai perkembangan bahasa yang dimiliki oleh seorang khususnya pada anak, baik itu faktor-faktor pendukung atau penghambatnya.
Tujuan khusus dari penulisan adalah untuk menyeesaikan tugas kelompok dari dosen pembimbing mata kuliah Psikologi Pendidikan.



Bab II
Pembahasan

A.  Pengertian Perkembangan Bahasa
Perkembangan adalah suatu proses untuk menuju kedewasaan pada makhluk hidup yang bersifat kualitatif, artinya tidak dapat dinyatakan dengan suatu bilangan tapi dapat di amati dengan mata telanjang. Perkembangan mengandung makna adanya pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya ( Kasiram, 1983 : 23), menandung arti bahwa perkembangan merupakan peubahan sifat indiviu menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat sebelumnya.
Menurut KBBI (1991) (dalam Muhibbin Syah, 2005: 41), perkembangan adalah perihal berkembang. Selanjutnya kata berkembang berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya.
Bahasa menurut KBBI ( 2008 : 116 ), yaitu sitem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh anggota asyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Pengertian Bahasa menurut Depdiknas (2005: 3 ) Bahasa pada hakikatnya adalah ucapan pikiran dan perasan manusia secara teratur, yang mempergunakan bunyi sebagai alatnya.
Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang diutarakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantonim atau seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan. 
Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun dengan tanda-tanda dan isyarat.  Haliday (dalam Rita Kurnia, 2009 : 68) mengemukakan “beberapa fungsi bahasa bagi anak”, fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
1.     Fungsi instrumental; bahasa di gunakan sebagai alat perpanjangan tangan”Tolong ambilkan pensil’’.
2.     Fungsi regulative; bahasa di gunakan untuk mengatur orang lain” Jangan ambil buku ku!”
3.    Fungsi interaksional; bahasa di gunakan untuk bersosialisasi “ Apa kabar?”
4.     Fungsi personal; bahasa di gunakan untuk mengungkapkan perasaan, pendapat, dan sebagainya. “Saya senamg sekali!”
5.  Fungsi heuristic / mencari informasi; bahasa di gunakan untuk bertanya. “Apa itu?”
6.    Fungsi imajinatif; bahasa digunakan untuk memperoleh kesenangan, misalnya, bermain-main dengan bunyi, irama.
7.    Fungsi representative; bahasa di gunakan untuk memberikan informasi atau fakta. “Sekarang hujan”.

B.  Perkembangan Bahasa pada Masa Infancy
Perkembangan pada masa infancy dapat dilihat dari hal-hal kecil yang bayi lakukan seperti tangisan bayi yang mengekspresikan banyak hal. Perkembangan pada tahapan ini sangat berpengaruh dalam menentukan perilaku selanjutnya karena pada masa bayi merupakan masa awal kehidupan manusia.
Perkembangan bahasa anak terlihat dari perubahan mulai dari tangisan hingga akhirnya anak mampu membuat kata dan kalimat. Pada umumnya bayi sering menangis pada minggu-minggu pertama, baik siang maupun malam. Hal ini memperlihatkan suatu penyesuaian dengan lingkungannya yang baru.
Menurut Dr. Najib Advani SpA. MMed. Paed., dokter anak di Sub. Bag, Kardiologi Anak FKUI-RSCM, secara garis besar bayi menangis dibagi dua kelompok. Pertama, bayi menangis tanpa penyakit, seperti lapar, haus, perasaan tidak enak atau tidak nyaman (kepanasan, kedinginan, popok basah, suara berisik, dan lainnya), tumbuh gigi, saat buang air kecil, kesepian, lelah, atau kolik. Kedua, bayi menangis karena ada sesuatu penyakit seperti infeksi, hernia, sumbatan usus, autisma, dan sebagainya.
Seiring dengan pertambahan usia, kita akan melihat perkembangan yang terjadi pada anak. Khususnya perkembangan fonologi atau kemampuan untuk mengeluarkan bunyi. Sejak lahir, bayi sudah memiliki kemampuan untuk memberitahu apa yang dia inginkan, sukai dan tidak sukai. Komunikasi yang dilakukan menggunakan bahasa isyarat. Kerewelan dan tangisan adalah cara bayi memberi tahu bahwa ia lapar, kesepian atau tidak nyaman. Gelisah, sering bangun, atau mengisap tangan adalah cara bayi memberi tahu bahwa ia lapar. Menangis ialah isyarat lapar yang lebih lanjut. Selain itu ada beberapa arti tangisan bayi lainnya, antara lain:
1.    Tangisannya berirama teratur, berlangsung terus-menerus, makin lama suaranya makin keras. Ini terjadi karena bayi merasa risih/tidak nyaman dengan popoknya yang basah.
2.    Bayi menangis dengan suara keras/melengking, berhenti sebentar, lalu menangis lagi. Atau tangisannya berupa rintihan. Ini terjadi karena bayi merasakan sakit.
3.    Tangis yang diikuti kerewelan, ada gangguan sedikit saja ia langsung merengek. Ini menandakan bahwa bayi lelah. Walaupun tidak banyak melakukan aktivitas, bayi bisa merasakan lelah.
4.    Tangisan berupa rintihan. Menjelaskan bahwa bayi merasakan kepanasan / kedinginan.
5.    Tangisan yang langsung melengking dari awal. Menunjukkan bahwa bayi terkejut, misalnya mendengarkan suara yang terlalu keras.

Setelah beberapa bulan, tangisan pada bayi akan berkurang karena ia sudah mulai mengetahui apa yang ada disekelilingnya, adanya ketertarikan dan keinginan untuk mendengarkan bunyi-bunyi.

Umur
Perkembangan Bahasa
0 – 2 bulan
-Menangis dan senyum
-Lebih suka kepada suara manusia
2 – 4 bulan
-Bermain dengan bunyi vokal seperti “aa-aa-aa-aa” ataupun “oo -oo-oo-oo”

6 – 9 bulan
-Mencantum bunyi konsonan dengan bunyivokal untuk menghasilkan suku kata sepert “ma-ma-ma” atau “ba-ba-ba”
 -Mula menunjukkan gerak tangan

9 – 12 bulan
-Mencantukan suku kata dan menghasilkan
12 – 18 bulan
-Menyebut perkataan ( mengenal nama benda atau orang)
18 – 24 bulan
-Menyebut gabungan 2 perkataan kalimat mudah melalui bahasa telegrafi (perkataanyang penting saja).
Seperti “ti-kar” untuk “ma, saya mau roti bakar”

C.  Perkembangan Bahasa pada Masa Early Childhood
Menuru pigetski, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komuikasi sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh lagi pigetski yakin, bahwa anak pada usiaa dini menggunakan bahsa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Pigetski mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan kedalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahsa untuk jangka waktu yang lama sebelum mereka membuat transisi dari kemampuan berbicara eksternal menjadi internal.
Secara kronologis (menurut urutan waktu), early childhood adalah masa perkembangan anak dari usia 2 tahun hingga 5 atau 6 tahun. Masa ini merupakan masa emas (golden age) bagi anak. Artinya bila seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya.
Realitas itu didasarkan pada hasil penelitian Dr.Benyamin S.Bloom,  penulis Stability and Change in Human Characteristics yang mengemukakan bahwa sekitar 50 persen potensi inteligensi anak sudah terbentuk pada usia 4 tahun dan mencapai 80 persen saat berusia 8 tahun dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun.  Berbagai penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama merupakan masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, jika pada usia tersebut anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal (Sutaryati, 2006:10). Dan masa emas yang demikian berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa berikutnya itu, seumur hidupnya hanyalah datang sekali. Sehingga apabila terlewati, dimana pada masa itu anak tidak mendapat pendidikan yang tepat, maka anak akan kehilangan peluang untuk membangun pondasi untuk keberhasilannya di masa depan.
Anak usia 4-5 tahun rata-rata dapat menggunakan 900-1000 kosa kata yang berbeda. Mereka menggunakan 4-5 kata dalam satu kalimat yang dapat berbentuk kalimat pernyataan, negative, Tanya, dan perintah. Anak usia 4 tahun sudah mulai menggunakan kalimat yang beralasan seperti “saya menangis karena sakit”. Pada usia 5 tahun pembicaraan merka mulai berkembang dimana kosa kata yang digunakan lebih banyak dan rumit.
Berpartisipasi dalam komunikasi bahasa seperti dalam penciptaan teks, baik lisan maupun tulisan. Haliday dan Hasan (dalam Rita Kurnia, 2009:38) mendefinisikan “teks sebagai wacana, lisan maupun tulisan, seberapapun panjangnya, yang membentuk satu kesatuan yang utuh”. Hymess (dalam Rita Kurnia, 2009:38) menyebut “kemampuan berkomunikasi, yang berarti menciptakan wacana, sebagai communicative competence.” Dengan demikian, kurikulum yang mengklaim sebagai berbasis kompetensi.
Aspek-aspek perkembangan bahasa anak usia taman kanak-kanak:
Anak usia taman kanak-kanak berada dalam fase perkembangan bahasa secara ekspresif. Hal ini berarti bahwa anak telah dapat mengungkapkan keinginananya, penolakannya, maupun pendapatnya dengan menggunakan bahasa lisan. Bahasa lisan sudah dapat di gunakan anak sebagai alat berkomunikasi.



Aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan bahasa anak tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kosa kata
Seiring dengan perkembangan anak dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungannya, kosa kata anak berkembang dengan pesat.
2. Sintaksis (tata bahasa)
Walaupun anak belum mempelajari tata bahasa, akan tetapi melalui contoh-contoh berbahasa yang di dengar dan di lihat anak di lingkungannya, anak telah dapat menggunakan bahasa lisan dengan susunana kalimat yang baik. Misalnya: “Rita memberi makan kucing” bukan  “kucing Rita makan memberi”.
3.  Semantik
Semantik maksudnya penggunaan kata sesuai dengan tujuannya. Anak di taman kanak-kanak sudah dapat mengekspresikan keinginan, penolakan dan pendapatnya dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat. Misalnya: “tidak mau” untuk menyatakan penolakan.
4.   Fonem (satuan bunyi terkecil yang membedakan kata)
Anak di taman kanak-kanak sudah memilki kemampuan untuk merangkaikan bunyi yang di dengarnya menjadi satu kata yang mengabdung arti. Misalnya: i.b.u menjadi ibu
Untuk menumbuh kembangkan kecerdasan-kecerdasan tersebut, anak pada usia dini (early childhood) memerlukan stimulan-stimulan sebagai berikut :
1.      Diajak berbicara
2.      Dibacakan buku cerita berulang-ulang
3.      Menyanyi lagu anak-anak
4.      Dirangsang untuk berbicara dan bercerita





D.  Perkembangan Bahasa pada Masa Middle Childhood
masa kanak-kanak Tengah juga merupakan periode dimana anak-anak meningkatkan pada tics pragma-bahasa, atau etiket sosial bahasa. Misalnya, anak usia sekolah menjadi lebih baik memelihara dan memberikan kontribusi untuk percakapan dengan mengajukan pertanyaan dan menambahkan informasi. Antara usia 6 dan 9, anak-anak menjadi lebih baik dalam naungan, atau mengubah topik selama percakapan.
Ini hasil dari meningkatnya kesadaran kebutuhan pendengar. Sebagian anak-anak bergerak melalui masa kanak-kanak tengah mereka menjadi lebih sadar ketika mereka disalahpahami dan melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk menjelaskan makna mereka dengan mengubah atau menambahkan kata-kata untuk kalimat mereka (Ninio & Snow, 1996).
Dibandingkan dengan sekolah dasar prasekolah dan awal, anak-anak dari 6 sampai 12 tahun usia adalah komunikator yang lebih efektif, menggunakan konstruksi gramatikal yang lebih kompleks, dan lebih menyadari peran mereka sebagai pendengar dan komunikator dalam beberapa konteks. Keragaman yang lebih besar antara kemampuan bahasa dalam hasil anak yang lebih tua sebagian besar dari faktor lingkungan.
Mereka juga berbicara dengan orang tua mereka lebih sering dan memiliki interaksi berbicara lebih positif dengan mereka (Hoff & Tian, 2005; Weigel, Martin, & Bennett, 2005). Perbedaan dalam perkembangan bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor ini terbukti dengan TK dan tetap stabil sampai remaja (Farkas & Beron, 2004).
Masa kanak-kanak pertengahan adalah tahap transisional koregulasi, dimana orang tua dan anak berbagi kekuasaan: orang tua mengawasi, akan tetapi si anak yang melaksanakan momen demi momen regulasi diri. Anak-anak lebih bersedia mengikuti keinginan orang tua apabila mereka menyadari bahwa orang tuanya adil dan memerhatikan kesejahteraan anak dan mereka(orang tua) mungkin mengetahui lebih baik karena pengalaman. Juga akan membantu apabila orang tua mencoba untuk mengikuti penilaian matang si anak dan hanya mengambil posisi tegas pada isu-isu penting.
Cara orang tua dan anak menyelesaikan konflik mungkin lebih penting ketimbang hasilnya, apabila konflik keluarga bersifat konstruktif, maka hal tersebut dapat membantu anak melihat kebutuhan teradap peraturan dan standar perilaku. Mereka juga belajar isu apa yang layak untuk diperdebatkan dan strategi apa yang dapat menjadi efektif.
Ketika anak mulai memasuki praremaja, dan keras, kualitas pemecahan masalah dan negosiasi keluarga menjadi memburuk. Antara usia 9 dan 11 tahun, partisipasi anak menjadi lebih negative, terutama pada topic diskusi yang dipilih oleh orang tua. Hal tersebut menjadikan topic yang dibahas bukan merupakan sesuatu yang penting, isu mendasarnya justru “siapa yang bertangung jawab”.
Pergeseran ke arah koregulasi memengaruhi cara orang tua menegakkan disiplin. Orang tua anak usia sekolah lebih cenderung menggunakan teknik induktif yang mengandung penalaran. Sebagai contoh, ayah Jared, 8 tahun, menunjukkan bagaimana tindakannya memengaruhi orang lain, “memukul Jermaine menyakitinya dan membuat perasaannya buruk. “dalam situasi lain, orang tua Jared dapat membandingkan dengan harga dirinya sendiri (“Apa yang terjadi dengan anak baik yang ada di sana kemarin?”), humor (“jika kamu keluar satu hari lagi sebelum mandi, maka kami akan mengetahuinya jika kamu pulang dengan lalat mengerubungimu”), nilai moral (“anak laki-laki yang kuat dan besar sepertimu tidak seharusnya duduk dan membiarkan orang yang sudah berusia lanjut berdiri”), atau apresiasi (“Apakah kamu tidak senang jika ayahmu memerhatikanmu dengan mengatakan kamu untuk mengenakan sepatu bot sehingga kamu tidak kedinginan?”). terlepas dari semua itu, orang tua Jared membiarkannya mengetahui konsekuensi dari perbuatannya (“Tidak perduli kamu ketinggalan bus sekolah hari ini – kamu tidur terlalu larut tadi malam! Sekarang kamu harus berjalan kaki ke sekolah”).

E.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa:
1. Kesehatan 
Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara ketimbang anak yang tidak sehat, karena motivasinya lebih kuat untuk menjadianggauta kelompok sosial dan berkomunikasi dengan anggauta kelompok tersebut. Apabila pada usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit terus menerus, maka anak tersebut cenderungakan mengalami kelambatan atau kesulitan dala perkembangan bahasannya. 

2. Intelegensi
Anak yang memiki kecerdasan tinggi belajar berbicara lebih cepat dan memperlihatkan penguasaan bahasa yang lebih unggul ketimbang anak yang tingkat kecerdasannya rendah. 

3. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan hal ini menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan anak yang berasal dari keluargayang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan)perkembangan bahasa anaknya atau kedua-duanya (Hetzer & Raindrorf dalam E. Hurlock, 1956).

4. Jenis Kelamin
Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan vokalisasi antara laki-laki dan perempuan. Namun mulai usia dua tahun, anak perempuan menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari pada anak pria. Pada setiap jenjang umur, anak laki-laki lebih pendak dan kurang betul tatabahasanya, kosa kata yang diucapkan lebih sedikit, dan pengucapannya kurang tepat ketimbang anak perempuan.

5. Hubungan Keluarga 
Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa dengan anak. Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat menakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya.
Hubungan yang sehat itu bisa berupa sikap orang tua yang keras\kasar, kurang kasih sayang dan kurang perhatian untuk memberikan latihan dan contohdalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan. Seperti gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar atau tidak sopan. 

6. Keinginan Berkomunikasi 
Semakin kuat keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, semakin kuat motivasi anak untuk belajar berbicara, dan semakin bersedia menyisihkan waktu dan usaha yang diperlukan untuk belajar. 

7. Dorongan 
Semakin banyak anak didorong untuk berbicara, dengan mengajaknya bicara dan didorong menanggapainya, akan semakin awal mereka belajar berbicara dan semakin baik kualitas bicaranya. 

8. Ukran Keluarga
Anak tunggal atau anak dari keluarga kecil biasanya berbicara lebih awaldan lebih baik ketimbang anak dari keluarga besar. Karena orang tua dapat menyisahkan waktu yang lebih banyak untuk mengajarkan anaknya berbicara. 

9. Urutan Kelahiran 
Dalam keluarga yang sama, anak pertama lebih unggul ketimbang anak yang lahir kemudia. Hal ini karena orang dapat menyisihkan waktunya lebih banyak untuk mengajar dan mendorong anak yang lahir pertama dalam belajar berbicara ketimbang untuk anak yang lahir kemudian. 


10. Metode Pelatihan Anak
Anak-anak yang dilatih secara otoriter yang menekankan bahwa ”anak harus dilihat dan didengar” merupakan hambatan belajar. Sedangkan pelatihan yang memberikan keleluasan dan demokratis akan mendorong anak untuk belajar.

11. Kelahiran Kembar
Anak yang lahir kembar umumnya terlambat dalam perkembanga bicaranya terutamakarena mereka lebih banyak bergaul dengan saudara kembarnya dan hanya memahamilogat khusus yang mereka miliki. Hal ini melamahkan motivasi mereka untuk belajar berbicara agar orang lain dapat memahami mereka.

12. Hubungan Dengan Teman Sebaya
Semakin banyak hubungan anak dengan teman sebayanya, dan semakin besar keinginan mereka untuk diterima sebagai anggauta kelompok sebayanya akan semakin kuat motivasi mereka untuk belajar berbicara. 

13. Keperibadian 
Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderungkemampuan bernicaranya lebih baik , baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar